ASAM BASA

Teori Asam Basa


A. MENURUT ARRHENIUS

Menurut teori Arrhenius, zat yang dalam air menghasilkan ion H + disebut asam danbasa adalah zat yang dalam air terionisasi menghasilkan ion OH .

HCl –> H + + Cl

NaOH –> Na + + OH

Meskipun teori Arrhenius benar, pengajuan desertasinya mengalami hambatan berat karena profesornya tidak tertarik padanya. Desertasinya dimulai tahun 1880, diajukan pada 1883, meskipun diluluskan teorinya tidak benar. Setelah mendapat bantuan dari Van’ Hoff dan Ostwald pada tahun 1887 diterbitkan karangannya mengenai asam basa. Akhirnya dunia mengakui teori Arrhenius pada tahun 1903 dengan hadiah nobel untuk ilmu pengetahuan.

Sampai sekarang teori Arrhenius masih tetap berguna meskipun hal tersebut merupakan model paling sederhana. Asam dikatakan kuat atau lemah berdasarkan daya hantar listrik molar. Larutan dapat menghantarkan arus listrik kalau mengandung ion, jadi semakin banyak asam yang terionisasi berarti makin kuat asamnya. Asam kuat berupa elektrolit kuat dan asam lemah merupakan elektrolit lemah. Teori Arrhenius memang perlu perbaikan sebab dalam lenyataan pada zaman modern diperlukan penjelasanyang lebih bisa diterima secara logik dan berlaku secara umum. Sifat larutan amoniak diterangkan oleh teori Arrhenius sebagai berikut:

NH 4 OH –> NH 4 + + OH

Jadi menurut Svante August Arrhenius (1884) asam adalah spesi yang mengandung H + dan basa adalah spesi yang mengandung OH, dengan asumsi bahwa pelarut tidak berpengaruh terhadap sifat asam dan basa.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa:

Asam ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion H + . Basa ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion OH .

Contoh:
1) HCl(aq) –> H + (aq) + Cl (aq)
2) NaOH(aq) –> Na + (aq) + OH (aq)

B. MENURUT BRONSTED-LOWRY
Asam ialah proton donor, sedangkan basa adalah proton akseptor.

Teori asam basa dari Arrhenius ternyata tidak dapat berlaku untuk semua pelarut, karena khusus untuk pelarut air. Begitu juga tidak sesuai dengan reaksi penggaraman karena tidak semua garam bersifat netral, tetapi ada juga yang bersifat asam dan ada yang bersifat basa.

Konsep asam basa yang lebih umum diajukan oleh Johannes Bronsted, basa adalah zat yang dapat menerima proton. Ionisasi asam klorida dalam air ditinjau sebagai perpindahan proton dari asam ke basa.

HCl + H 2 O –> H 3 O + + Cl

Demikian pula reaksi antara asam klorida dengan amoniak, melibatkan perpindahan proton dari HCl ke NH 3 .

HCl + NH 3 ⇄ NH 4 + + Cl
Ionisasi asam lemah dapat digambarkan dengan cara yang sama.

HOAc + H 2 O ⇄ H 3 O + + OAc
Pada tahun 1923 seorang ahli kimia Inggris bernama T.M. Lowry juga mengajukan hal yang sama dengan Bronsted sehingga teori asam basanya disebut Bronsted-Lowry. Perlu diperhatikan disini bahwa H + dari asam bergabung dengan molekul air membentuk ion poliatomik H 3 O + disebut ion Hidronium.

Reaksi umum yang terjadi bila asam dilarutkan ke dalam air adalah:

HA + H 2 O ⇄ H 3 O + + A

asam basa asam konjugasi basa konjugasi
Penyajian ini menampilkan hebatnya peranan molekul air yang polar dalam menarik proton dari asam.

Perhatikanlah bahwa asam konjugasi terbentuk kalau proton masih tinggal setelah asam kehilangan satu proton. Keduanya merupakan pasangan asam basa konjugasi yang terdi dari dua zat yang berhubungan satu sama lain karena pemberian proton atau penerimaan proton. Namun demikian disosiasi asam basa masih digunakan secara Arrhenius, tetapi arti yang sebenarnya harus kita fahami.

Johannes N. Bronsted dan Thomas M. Lowry membuktikan bahwa tidak semua asam mengandung ion H + dan tidak semua basa mengandung ion OH .

Bronsted – Lowry mengemukakan teori bahwa asam adalah spesi yang memberi H + ( donor proton ) dan basa adalah spesi yang menerima H + (akseptor proton). Jika suatu asam memberi sebuah H + kepada molekul basa, maka sisanya akan menjadi basa konjugasi dari asam semula. Begitu juga bila basa menerima H + maka sisanya adalah asam konjugasi dari basa semula.

Teori Bronsted – Lowry jelas menunjukkan adanya ion Hidronium (H 3 O + ) secara nyata.

Contoh:
HF + H 2 O ⇄ H 3 O + + F

Asam basa asa m konjugasi basa konjugasi

HF merupakan pasangan dari F dan H 2 O merupakan pasangan dari H 3 O + .

Air mempunyai sifat ampiprotik karena dapat sebagai basa dan dapat sebagai asam.

HCl + H 2 O –> H 3 O + + Cl

Asam Basa
NH 3 + H 2 O ⇄ NH 4 + + OH

Basa Asam

Manfaat dari teori asam basa menurut Bronsted – Lowry adalah sebagai berikut:

1. Aplikasinya tidak terbatas pada pelarut air, melainkan untuk semua pelarut yang mengandunh atom Hidrogen dan bahkan tanpa pelarut.

2. Asam dan basa tidak hanya berwujud molekul, tetapi juga dapat berupa anion dan kation.

Contoh lain:
1) HAc(aq) + H 2 O(l) –>
H 3 O+(aq) + Ac (aq)
asam-1 basa-2 asam-2 basa-1

HAc dengan Ac merupakan pasangan asam-basa konyugasi.
H 3 O+ dengan H 2 O merupakan pasangan asam-basa konyugasi.

2) H 2 O(l) + NH 3 (aq) –> NH 4 + (aq) + OH (aq)
asam-1 basa-2 asam-2 basa-1

H 2 O dengan OH merupakan pasangan asam-basa konyugasi.
NH 4 + dengan NH 3 merupakan pasangan asam-basa konyugasi.

Pada contoh di atas terlihat bahwa air dapat bersifat sebagai asam (proton donor) dan sebagai basa (proton akseptor). Zat atau ion atau spesi seperti ini bersifat ampiprotik (amfoter).

Penulisan Asam Basa Bronsted Lowry

C. Menurut G. N. Lewis

Selain dua teori mengenai asam basa seperti telah diterangkan diatas, masih ada teori yang umum, yaitu teori asam basa yang diajukan oleh Gilbert Newton Lewis ( 1875-1946 ) pada awal tahun 1920. Lewis lebih menekankan pada perpindahan elektron bukan pada perpindahan proton, sehingga ia mendefinisikan : asam penerima pasangan elektron dan basa adalah donor pasangan elekton. Nampak disini bahwa asam Bronsted merupakan asam Lewis dan begitu juga basanya. Perhatikan reaksi berikut:

Reaksi antara proton dengan molekul amoniak secara Bronsted dapat diganti dengan cara Lewis. Untuk reaksi-reaksi lainpun dapat diganti dengan reaksi Lewis, misalnya reaksi antara proton dan ion Hidroksida:

Ternyata teori Lewis dapat lebih luas meliput reaksi-reaksi yang tidak ternasuk asam basa Bronsted-Lowry, termasuk kimia Organik misalnya:

CH 3 + + C 6 H 6 ⇄ C 6 H 6 CH 3 +

 



Asam ialah akseptor pasangan elektron, sedangkan basa adalah Donor pasangan elektron. Contoh:


Asam Lewis

Asam-Basa Lewis

 

LARUTAN ASAM DAN BASA
MODUL BAHAN AJAR
MATA PELAJARAN KIMIA

Created by
ELIN NOVITA
Standar Kompetensi:
4. Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya.
Kompetensi Dasar:
4.1 Mendeskripsikan teori-teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan.

Indikator:
 Menjelaskan pengertian asam dan basa menurut Arrhenius
 Menjelaskan pengertian asam dan basa menurut Bronsted dan Lowry
 Menuliskan persamaan reaksi asam dan basa menurut Bronsted dan Lowry dan menunjukkan pasangan asam dan basa konjugasinya
 Menjelaskan pengertian asam dan basa menurut Lewis
 Mengidentifikasi sifat larutan asam dan basa dengan berbagai indikator.
 Memperkirakan pH suatu larutan elektrolit yang tidak dikenal berdasarkan hasil pengamatan trayek perubahan warna berbagai indikator asam dan basa
 Menjelaskan pengertian kekuatan asam dan menyimpulkan hasil pengukuran pH dari beberapa larutan asam dan basa yang konsentrasinya sama
 Menghubungkan kekuatan asam atau basa dengan derajat pengionan ( α ) dan tetapan asam (Ka) atau tetapan basa (Kb)
 Menghitung pH larutan asam atau basa yang diketahi konsentrasinya.
 Menjelaskan penggunaan konsep pH dalam lingkungan.

Alokasi Waktu : 6 X 45 menit
Strategi : Ekspositori dan discovery inquiry
Metode : Presentasi, eksperimen, diskusi kelompok dan penugasan.

Desain Kegiatan : Tatap muka (2 x 45 menit)
Kegiatan Tugas Terstruktur (2 x 45 menit)
Kegiatan Mandiri (2 x 45 menit)

KEGIATAN 1 (TATAP MUKA)

PENDAHULUAN

Asam dan basa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Contoh apabila seseorang terkena penyakit maag yang disebabkan kelebihan asam lambung maka orang tersebut perlu obat maag. Menurut Anda obat maag tergolong asam atau basa. Pehatikanlah penggunaan bahan-bahan kimia sehari-hari berikut:
1. Mencuci dengan sabun
2. Tukang patri membersikan karat besi menggunakan air keras.
3. Membuat kue menggunakan soda kue, NaHCO3
4. Elektrolit dalam aki
5. Jus buah
6. Susu
7. Minuman ringan
Manakah dari bahan-bahan di atas yang tergolng asam dan basa?

A. RUANG LINGKUP

1. Teori asam-basa Arrhenius
2. Teori asam-basa Brownsted-Lowry
3. Pasangan asam-basa konyugasi
4. Kekuatan asam dan basa konyugasi
5. Teori asam-basa Lewis
6. Asam kuat dan basa kuat
7. Asam lemah dan basa lemah
8. Indikator asam-basa
9. PH
10. Titrasi asam-bassa
11. Aplikasi PH dalam kehidupan dan lingkungan

B. URAIAN MATERI
LARUTAN ASAM DAN BASA
Asam dan basa merupakan dua golongan senyawa elektrolit yang penting. Definisi asam dan basa telah mengalami perkembangan sehingga mencakup semua zat yang bersifat asam atau bersifat basa. Pengertian asam dan basa yang biasa kita gunakan diambil menurut pengertian Arrhenius. Pengertian asam dan basa yang lebih luas diberikan oleh Bronsted-Lowry dan selanjutnya oleh Lewis.
1. Teori Asam Basa Arrhenius
o Definisi asam dan basa yang lazim digunakan adalah menurut Arrhenius.
o Asam : Dalam air menghasilkan ion H+.
Asam Reaksi ionisasi
HCl HCl —-> H+ + Cl-
CH3COOH CH3COOH —-> H+ + CH3COO-
H2SO4 H2SO4 —-> 2H+ + SO42-

o Basa : Dalam air menghasilkan ion OH–.
Basa Reaksi ionisasi
NaOH NaOH —-> Na+ + OH-
Ca(OH)2 Ca(OH)2 —-> Ca2+ + 2OH-
Al(OH)3 Al(OH)3 —-> Al3+ + 3OH-
2. Teori Asam Basa Bronsted-Lowry
a. Pengertian
o Asam = donor proton
o Basa = akseptor proton.
b. Asam dan Basa Konjugasi
o Asam → H+ + basa konjugasi
o Basa + H+ → asam konjugasi

NH3 adalah basa karena menerima proton (H+)
H2O adalah asam karena memberi proton (H+)
NH4+ adalah asam karena memberi proton (H+)
OH- adalh basa karena menerima proton (H+)
Pasangan asam bassa konyugasi adalah:
Asam kiri dengan basa kanan
Asam kanan dengan basa kiri
Untuk contoh di atas pasangan asam basa konyugasinya adalah:
H20 – OH-
NH4+ – NH3
c. Kekuatan Asam dan Basa
o Asam kuat : Mempunyai kecenderungan besar mendonorkan proton.
o Basa kuat : Mempunyai kecenderungan besar menarik proton.
o Semakin kuat asam, semakin lemah basa konjugasinya: Ka × Kb = Kw.
Contoh Soal 1. Menentukan asam/basa konjugasi
Basa konjugasi dari NH3 adalah . . . .
A. NH4OH
B. NH4+
C. NH2–
D. OH–
E. NH2+
Pembahasan:
Basa konjugasi dari suatu asam mempunyai 1 H lebih sedikit daripada asam itu dan muatan turun 1. Jadi, basa konjugasi dari NH3 adalah NH2–.
Jawaban: C

Daftar Pasangan Asam Basa Konyugasi
Asam Basa
HClO4 ClO4-
H2SO4 HSO4-
HI I-
HBr Br-
HCl Cl-
HNO3 NO3-
H3O+ H2O
HSO4- SO42-
H2SO3 HSO3-
H3PO4 H2PO4-
HNO2 NO2-
HF F-
CH3COOH CH3COO-
H2CO3 HCO3-
H2S HS-
HClO ClO-
HBrO BrO-
NH4+ NH3
HCN CN-
HCO3- CO32-
H2O2 HO2-
HS- S2-
H2O OH-
OH- O2-

Catatan:
Makin kuat suatu asam makin lemah sifat basa basa konyugasinya
Makin lemah suatu asam makin kuat sifat basa basa konyugasinya
Makin kuat suatu basa makin lemah sifat asam asam konyugasinya
Makin lemah suatu basa makin kuat sifat asam asam konyugasinya
3. Teori Asam Basa Lewis
o Asam = donor pasangan elektron.
o Basa = akseptor pasangan elektron.
o Reaksi asam dengan basa = pembentukan ikatan kovalen kordinasi.

Contoh Soal 1 Gunakah teori Lewis untuk menunjukkan bahwa raksi berikut merupakan reaksi asam basa.
a. BF3 + F- —-> BF4-
b. Cu2+ + 4NH3 —-> Cu(NH3)42+
Jawab:
a. BF3 adalah asam karena menerima pasangan elektron
F- adalah basa karena memberi pasangan elektron
b. Cu2+ adalah asam karena menerima pasangan elektron
NH3 adalah basa karena memberi pasangan elektron

4. Indikator Asam-Basa
o Asam dan basa dapat ditunjukkan dengan menggunakan indikator asam-basa, yaitu zat-zat warna yang memberi warna berbeda dalam lingkungan asam dan dalam lingkungan basa.
Contoh: Lakmus, fenolftalein, dan berbagai ekstrak bunga atau buah yang berwarna.
Trayek pH: adalah interval pH di mana suatu indikator mengalami perubahan warna
Tabel trayek pH beberapa indikator
Indikator Trayek pH Perubahan warna
Metil merah (mm)
Metil jingga (mj)
Bromtimol biru (btb)
Fenolftalein (pp) 4,0 – 5,8
3,2 – 4,4
6,0 – 7,6
8.2 – 10 Merah – Kuning
Merah – kuning
Kuning – biru
Tidak berwarna – merah

Contoh soal: 2 Seorang siswa menguji larutan X dengan indikator tunggal menghasilkan data sebagai berikut:
Larutan X ditetesi indikator mm menghasilkan warna kuning
Dengan metil jingga menghasilkan warna kuning
Dengan btb menghasilkan warna biru
Dengan pp tidak berwarna
Berapa pH larutan X tersebut?

Penyelesaian:
Dengan indikator mm berwarna kuning berarti pH > 5,8
Dengan indikator mJ berwarna kuning berarti pH > 4,4
Dengan indikator btb berwarna biru berarti pH > 7,6
Dengan indikator pp tidak berwarna berarti pH < 8,2
Kesimpulan pH larutan 7,6 < pH< 8,2

3. Kesetimbangan Air
Air merupakan elektrolit yang sangat lemah. Air terion menjadi H+ dan OH- . Di dalam air terjadi kesetimbangan antara H2O, ion H+ dan OH- menurut persamaan:
H2O(l) === H+(aq) + OH-(aq). Pada suhu 25o C Kw = 1,0 x 10-14
Kw = 1,0 x 10-14 = [H+] [OH-]. Dalam air murni pada suhu 25o C [H+] = [OH-] = √ Kw = 10-7 M. Setiap larutan dalam air baik larutan assam maupun basa pada suhu 25o C berlaku
Kw = 1,0 x 10-14 = [H+] [OH-].
Dalam larutan asam [H+] > [OH-]
Dalam larutan netral [H+] = [OH-]
Dalam larutan basa [H+] < [OH-]

4. Kekuatan Asam-Basa

o Kekuatan asam/basa dinyatakan dengan parameter derajat ionisasi (α) dan tetapan ionisasi (Ka atau Kb).
o Kuat : Derajat ionisasi (α) → 1; Ka atau Kb besar
o Lemah : Derajat ionisasi (α) → 0; Ka atau Kb kecil
o Semakin encer larutan, semakin besar derajat ionisasi (α), tetapi nilai Ka atau Kb tetap.
o Asam kuat: HCl, HBr, HI, HNO3, HClO4, HNO3, H2SO4
[H+] = Valensi x M Asam
Basa kuat: NaOH, KOH, Ca(OH)2, Sr(OH)2, Ba(OH)2
[OH-] = Valensi x M Basa
Asam lemah : semua asam di luar asam kuat, contoh: HF, CH3COOH, H2CO3, H3PO4
[H+] = √ Ka. Ma
Basa lemah : semua basa di luar basa kuat, contoh: NH3(aq) , Cu(OH)2, Al(OH)3.
[OH-] = √ Ka. Mb.

5. pH
p = potenz artinya pangkat dari H+.
pH adalah cara lain menyatakan konsentrasi ion H+ dalam larutan air

[H+] 10-1 10-2 10-3 10-4 10-5 10-6 10-7 10-8 10-9 10-10 10-11 10-12 10-13 10-14
pH
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
[OH-]
10-13 10-12 10-11 10-10 10-9 10-8 10-7 10-6 10-5 10-4 10-3 10-2 10-1 10o
pOH
13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0

Dari tabel di atas dapat disimpulkan
pH = – log [H+]
pOH = – log [OH-]
pH + pOH = 14
Alur menghitung pH larutan asam
Hitung Molaritas asam —-> Hitung konsentrasi ion H+ —-> pH = – log [H+]
Alur menghitung pH larutan basa
Hitung Molaritas Basa —-> Hitung konsentrasi ion OH- —-> pOH = – log [OH-] —-> pH = 14 – pOH

Contoh Soa 1. Menghitung pH larutan asam/basa.
Diketahui Kb NH3 = 1 × 10–5, maka pH larutan NH3 0,1 M adalah . . . .
A. 1
B. 3
C. 5
D. 11
E. 13
Pembahasan:
Senyawa NH3 tergolong basa lemah. Oleh karena itu, konsentrasi ion OH– dihitung dengan rumus basa lemah.
[OH–] =
= = 1 × 10–3
pOH = –log 1 × 10–3 = 3
pH = 14 – pOH = 11
Jawaban: D

Contoh soal 2. Sebanyak 3,7 gram kalsium hidroksida, Ca(OH)2 (Mr=74) dilarutkan dalam air sampai volume larutan 1 liter hitung pH larutan.
Penyelesaian: Ca(OH)2 adalah basa kuat
Molaritas Ca(OH)2 = g/Mr x 1000/mL
= 3,7 x 1000 = 0,05 M
74 1000
Menghitung [OH–] = Valensi x Mb
= 2 x 0,05 M = 0,1 M
Menghitung pOH = – log [OH–] = – log 0,1 = – log 1 x 10-1 = 1 – log 1 = 1 – 0 = 1

Menghitung pH = 14 – pOH = 14 – 1 = 13

Contoh soal 3. Larutan asam asetat (cuka) digunakan sebagai bumbu penyedap pada baso. Asam asetat adalah asam lemah dengan harga konstanta ionisasi =Ka= 1,8 x 10-5. Bila diketahui konsentrasi asam asetat 0,1M, hitung pH larutan asam asetat tersebut!

Jawab: Asam asetat, CH3COOH, adalah asam lemah. [ H+] =
= = = 1,36 x 10-3 M
pH = – log [ H+]v= – log 1,36 x 10-3 = 3 – log 1,36

Contoh soal 4: Larutan asam sulfat pekat (Mr= 98)yang diperjual belikan mempunyai kadar 98% massa, dengan massa jenis 1,8 kg/L. Sebanyak 5 mL larutan asam pekat ini diencerkan dengan air sampai volume larutan 500 mL. Hitung pH larutan setelah diencerkan.

Penyelesaian:
Molaritas H2SO4 pekat = 10 x % x mJ = 10 x 98 x 1,8
Mr 98
Molaritas H2SO4 setelah pengenceran: V1 x M1 = V2 x M2
5 x 18 = 500 x M2
M2 = 5x 18/500 = 0,18 M

[ H+] = Valensi x Ma = 2 x 0,18 M = 0,36 M = 3,6 x 10-1 M
pH = – log 3,6 x 10-1 = 1 – log 3,6

C. CONTOH PEMECAHAN MASALAH

D. TUGAS UNTUK DIDISKUSIKAN

KEGIATAN 2 (TUGAS TERSTRUKTUR)

Setelah mengikuti kegiatan ini anda diharapkan dapat:
1. Membuktikan hukum dasar kimia melalui percobaan.
2. Membuktikan hukum dasar kimia melalui data hasil percobaan.

A. PENDAHULUAN
 Pada kegiatan kali ini anda bekerja secara kelompok dalam membuktikan Hukum Kekekalan Massa dan Hukum Perbandingan Tetap.
 Bacalah petunjuk praktikum dengan cermat dan teliti sebelum anda memulainya.
 Mintalah bantuan kepada guru jika mengalami kesulitan dan kebingungan.
 Untuk laporan praktikum anda buat secara individu dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.

B. LEMBAR KERJA
PETUNJUK PRAKTIKUM PEMBUKTIAN HUKUM KEKEKALAN MASSA
1. Bacalah terlebih dahulu tujuan praktikum secara cermat, kemudian lakukan persiapan.
2. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
3. Lakukan langkah kerja dengan cermat dan telili kemudian catat data hasil percobaan.
4. Analisis data hasil percobaan dan buatlah kesimpulan.

TUJUAN
Membuktikan Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier).

WAKTU DAN TEMPAT
Waktu Percobaan : 2 x 45 menit
Tempat Percobaan : Laboratorium Kimia

BAHAN DAN ALAT
 Untuk Percobaan Pembuktian Hukum Kekekalan Massa
Alat-alat:
1. Tabung reaksi kecil
2. Erlenmeyer
3. Sumbat gabus
4. Pipet tetes
5. Timbangan elektronik.
6. Balon karet
7. Botol kecil
8. Gelas ukur Bahan-bahan:
1. Larutan Pb(CH3COO)2 0,1 M
2. Larutan KI 0,1 M
3. CH3COOH pekat
4. Na2CO3

LANGKAH KERJA
Percobaan 1.
1. Masukkan 2 ml Larutan KI 0,1 M ke dalam Erlenmeyer.
2. Masukkan 2 ml larutan Pb(CH3COO)2 0,1 M ke dalam tabung reaksi.
3. Kemudian masukkan tabung reaksi tadi ke dalam Erlenmeyer yang telah berisi larutan KI. Usahakan jangan sampai bercampur dan tutup dengan sumbat.
4. Timbang dan catat massanya.
5. Tanpa membuka sumbat miringkan Erlenmeyer hingga isi tabung reaksi bercampur dengan larutan KI.
6. Timbang dan catat massanya.

Percobaan 2.
1. Masukkan 10 ml CH3COOH pekat ke dalam botol.
2. Masukkan 2 sendok spatula Na2CO3 ke dalam balon.
3. Pasangkan balon pada mulut botol dan usahakan jangan sampai bercampur.
4. Timbang dan catat massanya.
5. Tegakkan posisi balon hingga isinya bercampur dengan Larutan CH3COOH pekat. Usahakan balon tidak terlepas dari mulut botol.
6. Biarkan sesaat hingga reaksi selesai.
7. Timbang dan catat massanya.

DATA PERCOBAAN
No. Percobaan Reaksi Massa sebelum
(gram) Massa Sesudah
(gram)
1. larutan Pb(CH3COO)2 0,1 M +
Larutan KI 0,1 M
2. CH3COOH pekat + Na2CO3

ANALISIS DATA
Dari data yang diperoleh, apakah ada perubahan massa zat sebelum dan sesudah reaksi? Jelaskan!
…………………………………………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………………………………….

KESIMPULAN
…………………………………………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………………………………….

C. TUGAS UNTUK DIDISKUSIKAN
Pada percobaan 2 terjadi perubahan massa meskipun sedikit. Mengapa demikian? Diskusikan dengan kelompok anda dan jelaskan!
……………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………..

B. LEMBAR KERJA
PETUNJUK PRAKTIKUM PEMBUKTIAN HUKUM PERBANDINGAN TETAP
1. Bacalah terlebih dahulu tujuan praktikum secara cermat, kemudian lakukan persiapan.
2. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
3. Lakukan langkah kerja dengan cermat dan teliti kemudian catat data hasil percobaan.
4. Analisis data hasil percobaan dan buatlah kesimpulan.

TUJUAN
Membuktikan Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)

WAKTU DAN TEMPAT
Waktu Percobaan : 2 x 45 menit
Tempat Percobaan : Laboratorium Kimia

BAHAN DAN ALAT
 Untuk Percobaan Pembuktian Hukum Perbandingan Tetap
Alat-alat:
1. Krusibel
2. Kaki tiga
3. Segi tiga
4. Pembakar bunsen
5. Tang penjepit
6. Timbangan elektronik Bahan:
1. Pita magnesium

LANGKAH KERJA
1. Siapkan wadah krusibel dan tutupnya. Timbang dan catat massanya dalam kolom m1 pada tabel dibawah.
2. Siapkan 3 pita magnesium (Mg) dengan ukuran berbeda.
3. Ambil satu pita Mg dan letakkan dalam wadah krusibel. Timbang dan catat dalam kolom m2.
4. Panaskan wadah tersebut. Selama pemanasan gunakan penjepit untuk membuka tutup wadah sedikit dari waktu ke waktu agar oksigen di udara bisa masuk. Usahakan asap putih yang terbentuk tidak keluar dari wadah. Pemanasan berlangsung sampai Mg habis bereaksi dengan oksigen di udara membentuk senyawa Magnesium Oksida.
5. Setelah pemanasan selesai, timbang dan catat massanya dalam kolom m3
6. Ulangi pecobaan dengan kedua pita Mg lainnya.

DATA HASIL PERCOBAAN
Perc. Massa wadah + tutup
(m1) Massa sebelum Pemanasan (m2) Massa setelah Pemanasan (m3) Massa Mg yg direaksikan (m2-m1) Massa Oksigen yg direaksikan (m3-m2) Massa MgO yg terbentuk (m3-m1)
1
2
3

ANALISIS DATA
Berdasarkan hasil ekperimen di atas, bagaimana perbandingan massa Magnesium dan massa Oksigen yang bereaksi? Jelaskan!
……………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………..

KESIMPULAN
……………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………..

D. TUGAS UNTUK DIDISKUSIKAN
Jika dari hasil ekperimen kelompok anda tidak sesuai maka diskusikanlah apa yang menjadi penyebab ketidak sesuaian hasil eksperimen tersebut dan jelaskan!
……………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………..

KEGIATAN 3 (KEGIATAN MANDIRI)

A. PENDAHULUAN
Dalam kegiatan ini anda secara mandiri harus mencoba menjawab soal uji kompetensi, baik dalam bentuk uraian maupun bentuk pilihan ganda. Melalui soal uraian kemampuan analisis anda diharapkan dapat berkembang sehingga anda memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan langkah yang sistematis dan logis. Sementara dengan soal pilihan ganda anda dituntut memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan memilih satu jawaban yang dianggap paling benar.
Dengan kemampuan analisis yang tajam dan pengambilan keputusan yang tepat anda akan terbiasa memecahkan masalah secara sistematis dan logis.

B. RINGKASAN MATERI

C. UJI KOMPETENSI
Contoh Soal Uraian (5 soal):
Jawablah pertanyaan di bawah ini berikut penyelesaiannya dengan jelas!
1. Gas NO2 sebagai pencemar pada kondisi berlebihan, salah satunya di udara dihasilkan melalui reaksi:
6NO(g) + 4O3(g)  6NO2(g) + 3O2(g)
Pada P dan T yang sama, untuk mendapatkan gas NO2 0,6 ml, maka berapakah volume gas NO dan O3 yang harus direaksikan?

2. Unsur X dapat membuat lebih dari satu senyawa dengan unsur Y.
Perbandingan massa:
Senyawa 1 ~ X : Y = 20 : 30
Senyawa 2 ~ X : Y = 10 : 40
Senyawa 3 ~ X : Y = 30 : 60
Maka tentukan perbandingan massa X pada ketiga senyawa tersebut!

3. Dito melakukan suatu percobaan sebagai berikut:
3 gram Na2CO3 dimasukkan ke dalam balon yang direkatkan pada Erlenmeyer yang berisi 10 ml Larutan CH3COOH pekat seperti gambar dibawah. Sebelum direaksikan Dito menimbang Erlenmeyer yang telah direkatkan dengan balon beserta isinya ternyata massanya 121 gram.
Persamaan reaksi tersebut:
Na2CO3(s) + CH3COOH(aq)  CH3COONa(aq) + CO2(g) + H2O(l)

Setelah reaksi Dito menimbang kembali. Bagaimana hasil timbangan tersebut dan jelaskan!

4. Perbandingan massa Magnesium dengan massa Oksigen dalam Magneium Oksida adalah 3 : 2. Jika 12 gram magnesium direaksikan dengan 10 gram Oksigen, tentukan massa MgO yang terbentuk dan massa zat sisa!

5. Pada suhu dan tekanan yang sama 50 ml gas NxOy terurai sempurna menghasilkan 100 ml gas NO dan 25 ml gas O2. Maka tentukan rumus senyawa NxOy !

DAFTAR PUSTAKA
Johari, JMC dan Rachmawati, M. 2007. Kimia 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.
http://www.e-dukasi.net

KUNCI JAWABAN

1. Persamaan reaksi : 6NO(g) + 4O3(g)  6NO2(g) + 3O2(g)
Perbandingan koefisien : 6 : 4 : 6 : 3
Perbandingan volum : ? : ? : 0,6 ml
Jawaban : 0,6 ml : 0,4 ml : 0,6 ml : 0,3 ml
Jadi volum gas NO = 0,6 ml dan volume gas O3 = 0,4 ml

2. Perbandingan  massa X : massa Y atau massa X : massa Y
Senyawa 1  20 : 30 8 : 12
Senyawa 1  10 : 40 3 : 12
Senyawa 1  30 : 60 6 : 12
Maka perbandingan masa X pada ketiga senyawa tersebut hádala 8 : 3 : 6.

3. Hasil tepat sama sesuai dengan Hukum Kekekalan Massa dimana massa zat-zat yang bereaksi sebelum dan sesudah reaksi sama.

4. massa Mg : massa O = 3 : 2
12 g : massa O = 3 : 2
massa O = 2/3 x 12 g
massa O = 8 g

massa MgO = massa Mg + massa O
massa MgO = 12 g + 8 g
massa MgO = 20 g

massa zat sisa yaitu massa O = massa O mula-mula – massa O yang bereaksi
massa zat sisa yaitu massa O = 10 g – 8 g
massa zat sisa yaitu massa O = 2 g

5. Persamaan reaksi : NxOy  NO + O2
Perbandingan volum : 50 ml : 100 ml : 25 ml
Perbandingan koefisien : 2 : 4 : 1
Maka persamaannya : 2NxOy  4NO + O2
N : 2X = 4 O : 2Y = 4 + 2
X = 2 Y = 3
Maka rumus senyawa tersebut adalah N2O3

//

//

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s